Microselebritas atau selebritas mikro telah berhasil meruntuhkan industri media massa besar. Microselebritas telah mematahkan kemapanan industri media seperti stasiun televisi, media massa cetak dan radio yang selama ini berhasil melakukan personal branding terhadap pendakwah tertentu sehingga dapat popular di kalangan Muslim Indonesia. Populernya pendakwah sebagai selebritas ‘kecil’ menjadi semacam upaya menggunakan media virtual untuk menyebarkan ajaran Islam secara lebih luas.
Selain itu, microselebritas Muslim di satu sisi bersifat lebih egaliter; semua pendakwah dapat peluang yang setara untuk menjadi popular, baik pendakwah di desa-desa terpencil maupun di episentrum kota besar. Kini, penyebaran lokus pendakwah tak hanya terpusat di kota-kota, tempat menjamurnya industri-industri yang memonopoli ‘pasar dakwah’. Bergesernya pola dakwah semacam itu menyebabkan tumbuhnya figur pendakwah baru yang memikat hati masyarakat Muslim khususnya di Indonesia tanpa harus bersandar di balik punggung pemodal media.
Dengan kata lain, para pendakwah saat ini tak lagi bertumpu terhadap kekuatan kapital dari penguasa media massa, melainkan mengandalkan kreativitas dan model dakwah yang dapat diterima oleh masyarakat luas. Di Pulau Lombok sendiri, pola dakwah virtual telah dimulai oleh sejumlah Tuan Guru di desa maupun di kota. Hal tersebut menyebabkan para pendakwah dari Lombok dapat tampil secara nasional bahkan internasional dengan memanfaatkan kekuatan media sosial seperti youtube, tiktok, Instagram dan facebook.

Ulasan
Belum ada ulasan.